Protes massa pecah di seluruh pelosok Indonesia menyusul disahkannya undang-undang kontroversial Omnibus Law. DPR mempercepat pengesahan undang-undang ini, dari yang seharusnya tanggal 8 Oktober palu diketok pada 5 Oktober. Dengan menyolong start, pemerintah berharap ini dapat menghindari protes massa yang telah disiapkan oleh berbagai unsur gerakan. Tetapi usaha ini tidak berhasil mengecoh massa yang telah marah dan justru menyulut kegeraman massa lebih lanjut.

Konten sesungguhnya dari slogan Lenin adalah untuk menekankan pentingnya memerangi sauvinisme dan menentang “Burgfrieden” (gencatan senjata antara partai-partai politik selama Perang Dunia). Esensi posisi politik Lenin adalah kaum sosialis tidak boleh mengambil tanggung jawab apapun untuk perang imperialis ini. Lebih baik membiarkan Rusia kalah daripada mendukung kaum borjuasi Rusia dan perang predatorisnya. Penting untuk menanamkan gagasan ini dalam benak kader-kader partai, untuk melindungi mereka dari penyakit sauvinisme. Di sisi lain, Lenin adalah seorang realis, dan maka dari itu dia paham bahwa kita tidak boleh membingungkan kesadaran massa dengan kesadaran kaum revolusioner. Untuk bisa membangun partai revolusioner dan mengikatnya dengan massa, kita harus tahu bagaimana menghubungkan program Marxis yang sudah rampung dengan kesadaran massa yang niscaya belum matang, penuh kebingungan dan penuh kontradiksi. Inilah keseluruhan seni membangun partai. Inilah mengapa Lenin mengubah posisinya setelah kembali ke Petrograd, dengan mengatakan bahwa ada dua macam defensisme: defensismenya kaum pengkhianat sauvinis-sosial dan “defensisme jujur” rakyat. Dengan pernyataan ini, bukan berarti Lenin menyangkal posisi “revolutionary defeatism”nya yang sebelumnya. Dia hanya mengakui bahwa cara menyampaikan gagasan ini ke massa dalam situasi tertentu harus mempertimbangkan tingkatan kesadaran massa yang sesungguhnya. Tidak melakukan ini akan membuat partai menjadi sebuah sekte belaka.

Selama satu bulan terakhir, bursa-bursa saham seperti Dow Jones dan FTSE telah kehilangan lebih dari 25 persen nilai mereka. Sementara, roda ekonomi dunia berhenti. Pengangguran meningkat di semua negeri. Kapitalisme sedang dalam krisis di seluruh dunia. Kelas penguasa menyalahkan virus Corona baru sebagai biang kerok krisis ekonomi. Tetapi sesungguhnya virus ini hanya memunculkan ke permukaan kontradiksi-kontradiksi yang telah terkumpul selama puluhan tahun di dalam sistem kapitalisme.